Fenomena quiet quitting kini tengah menjadi perbincangan hangat di tengah perubahan dinamika kerja modern yang semakin kompleks.
Perubahan pola kerja, meningkatnya risiko burnout, pentingnya work-life balance, serta masuknya generasi kerja baru membuat cara pandang terhadap pekerjaan ikut bergeser.
Fenomena ini tidak selalu terlihat secara kasat mata, namun dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh perusahaan maupun karyawan.
Lalu, apa itu quiet quitting, apa penyebabnya, dan bagaimana perusahaan dapat mengelolanya secara tepat? Berikut penjelasan lengkap mengenai fenomena quiet quitting di dunia kerja modern.
Pengertian Quiet Quitting
Quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan tetap bekerja dan memenuhi tanggung jawab sesuai kontrak, namun tidak lagi menunjukkan keterlibatan emosional atau usaha ekstra di luar job description.
Fenomena quiet quitting bukan berarti karyawan benar-benar berhenti bekerja. Mereka tetap menjalankan tugas sesuai jam kerja dan peran yang ditetapkan, tetapi memilih untuk tidak memberikan kontribusi tambahan, lembur berlebihan, atau inisiatif di luar kewajiban.
Dalam konteks dunia kerja modern, fenomena quiet quitting sering muncul sebagai respons terhadap kelelahan kerja, tekanan berlebih, dan kurangnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Penyebab Quiet Quitting di Perusahaan
Fenomena quiet quitting tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa faktor internal perusahaan yang sering menjadi pemicunya.
1. Beban Kerja Tidak Seimbang
Beban kerja yang berlebihan tanpa pembagian tugas yang jelas dapat memicu kelelahan fisik dan mental. Ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus, karyawan cenderung menarik diri dan hanya bekerja sebatas kewajiban.
2. Kurangnya Apresiasi dan Pengakuan
Karyawan yang merasa usahanya tidak dihargai akan kehilangan motivasi. Minimnya apresiasi, baik secara finansial maupun non-finansial, sering menjadi penyebab quiet quitting.
3. Minimnya Pengembangan Karier
Tidak adanya kejelasan jenjang karier atau kesempatan pengembangan kompetensi membuat karyawan merasa stagnan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan keterlibatan dan loyalitas.
4. Kepemimpinan dan Komunikasi yang Kurang Efektif
Gaya kepemimpinan yang kurang terbuka serta komunikasi satu arah membuat karyawan enggan menyampaikan aspirasi. Akibatnya, masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan justru berkembang menjadi quiet quitting.
Ciri-Ciri Karyawan yang Mengalami Quiet Quitting
Mendeteksi fenomena ini sejak dini sangat penting bagi manajemen. Berikut adalah beberapa ciri yang umum terlihat:
- Bekerja hanya sesuai jam dan jobdesc: Datang dan pulang tepat waktu secara kaku serta enggan membantu tugas di luar tanggung jawabnya.
- Minim inisiatif dan partisipasi: Jarang memberikan ide dalam rapat atau sekadar menjadi pendengar pasif.
- Tidak tertarik pengembangan diri: Enggan mengikuti pelatihan atau program peningkatan skill yang ditawarkan perusahaan.
- Kinerja stabil tapi stagnan: Hasil pekerjaan tetap memenuhi standar minimal, namun tidak ada peningkatan kualitas atau inovasi.
Dampak Quiet Quitting bagi Perusahaan
Jika tidak dikelola dengan baik, quiet quitting dapat berdampak pada penurunan produktivitas, melemahnya budaya kerja, dan meningkatnya risiko turnover tersembunyi.
Selain itu, perusahaan dapat kehilangan potensi karyawan yang sebenarnya masih memiliki kemampuan, namun tidak lagi terlibat secara aktif dalam perkembangan bisnis.
Cara Mengelola dan Mencegah Quiet Quitting
Mengatasi quiet quitting membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, bukan sekadar menuntut kinerja.
1. Evaluasi Beban Kerja dan Peran Karyawan
Perusahaan perlu memastikan pembagian tugas yang adil dan realistis agar karyawan tidak mengalami kelelahan berlebihan.
2. Bangun Komunikasi Dua Arah
Komunikasi yang terbuka membantu manajemen memahami kebutuhan, kendala, dan aspirasi karyawan secara lebih objektif.
3. Terapkan Sistem Penilaian Kinerja yang Jelas
Sistem penilaian yang transparan dan terukur membuat karyawan memahami kontribusinya serta peluang pengembangan yang tersedia.
4. Dukung Kesejahteraan Karyawan
Program kesejahteraan, fleksibilitas kerja, dan dukungan kesehatan mental menjadi faktor penting dalam menjaga engagement jangka panjang.
Peran People Management dalam Mengatasi Quiet Quitting
Pendekatan People Management yang baik membantu perusahaan memahami kebutuhan individu setiap karyawan. Peranynya adalah sebagai berikut:
- Memudahkan HR dalam memantau kehadiran, mengelola data karyawan, dan mecatat performa secara akurat.
- Melalui sistem yang transparan, perusahaan bisa mendeteksi penurunan keterlibatan sebelum menjadi masalah besar.
- Membangun hubungan yang harmonis, termasuk dalam menjalin komunikasi yang baik dengan pihak eksternal & internal seperti serikat pekerja guna mencapai kesepakatan kerja yang adil.
Sederhanakan Pengelolaan SDM, Cegah Quiet Quitting Bersama Abhitech
Quiet quitting bukanlah semata-mata kesalahan karyawan, melainkan sering kali merupakan sinyal adanya ketidakseimbangan dalam sistem kerja.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas dan keterlibatan karyawan secara bertahap.
Dengan solusi People Management terintegrasi dari Abhitech, perusahaan dapat mengelola data karyawan, memantau kinerja, serta mengevaluasi tingkat engagement secara lebih efisien dan transparan.
Pelajari lebih lanjut solusi people management Abhitech melalui laman blog resmi dan hubungi tim kami untuk berdiskusi dalam mengoptimalkan pengelolaan SDM serta mencegah quiet quitting sejak dini.
FAQ Seputar Quiet Quitting
1. Apakah quiet quitting termasuk pelanggaran kerja?
Tidak. Selama karyawan masih memenuhi kewajiban sesuai kontrak dan job description, quiet quitting tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran kerja.
2. Apakah quiet quitting selalu berdampak negatif?
Tidak selalu. Dalam beberapa kasus, quiet quitting bisa menjadi cara karyawan menjaga keseimbangan kerja dan kesehatan mental. Namun, jika dibiarkan, dampaknya bisa merugikan perusahaan.
3. Bagaimana HR bisa mendeteksi quiet quitting sejak dini?
HR dapat memantau perubahan keterlibatan, partisipasi, dan tren kinerja melalui evaluasi rutin serta sistem People Management yang terintegrasi.
4. Apakah People Management bisa membantu meningkatkan engagement karyawan?
Ya. People Management yang efektif membantu perusahaan membangun komunikasi, kebijakan, dan sistem kerja yang mendukung keterlibatan serta kesejahteraan karyawan.










